Selamat Jalan Ki Enthus Susmono, Dalang Edan Penentang Zaman
loading...
Indonesia kehilangan salah satu seniman besarnya. Dalang sekaligus Bupati Tegal non-aktif, Enthus Susmono, meninggal dunia pada Senin (14/5) kemarin malam di RSUD Soeselo, Slawi.
“Iya betul, mas. Tadi jam 19.15,” kata Wakil Ketua DPC PKB Tegal, Fathuri Nurzen, saat dihubungi Tirto.
Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Enthus berencana akan menghadiri acara pengajian di Desa Argatawang, Kecamatan Jatinegara. Sebelum berangkat, ia sempat bertemu dengan sejumlah tokoh masyarakat di Desa Kajenengan, Kecamatan Bojong. Di tengah perjalanan, Enthus merasakan nyeri di dada, mual, hingga berujung tidak sadarkan diri.
Enthus pun segera dilarikan ke puskesmas terdekat. Di sana, tim medis segera melakukan pertolongan pertama pada Enthus. Tapi, hasilnya nihil: ia masih juga tidak sadarkan diri.
Tak lama kemudian, Enthus dibawa ke RSUD Soeselo. Namun, upaya penanganan dari pihak rumah sakit tidak membuahkan hasil. Enthus dinyatakan meninggal dunia akibat serangan jantung.
Bahagia dengan Wayang
Enthus lahir di Desa Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal pada 21 Juni 1966. Ia anak tunggal dari pasangan Soemarjadihardja dan Tarminah. Sejak kecil, hidup Enthus tak bisa dilepaskan dari wayang mengingat ia tumbuh di keluarga seniman. Ayahnya dalang wayang golek, sementara kakek buyutnya, R.M. Singadimedja, adalah dalang yang kondang di era kekuasaan Amangkurat Mataram.
Kendati tumbuh di keluarga seniman, Enthus tak serta merta diperbolehkan mengikuti jejak ayahnya menjadi dalang. Sang ayah pernah berpesan “Dadi dalang kuwi abot sanggane” (jadi dalang itu berat).
Pernyataan sang ayah didasari alasan bahwa pekerjaan mendalang tak otomatis membuat ekonomi keluarganya membaik. Berkaca dari hal tersebut, sang ayah lantas meminta Enthus fokus sekolah; syukur-syukur bisa sampai kuliah dan membawa titel sarjana.
Dasarnya Enthus ngeyel, ia tetap tertarik untuk terjun ke dunia pewayangan. Seringkali ia mencuri kesempatan berlatih wayang di kala ayahnya tidur pulas. Enthus juga rajin ikut ayahnya mentas dari satu panggung ke panggung lainnya. Mengamati lakon yang dibawakan ayahnya sampai menyimak teknik-teknik pedalangan dengan seksama.
Tak hanya itu saja, Enthus tak malu belajar dari para dalang senior macam Sugino Siswotjarito, Ki Gunawan Suwati, serta Ki Bonggol, di samping rutin mendengarkan rekaman kaset permainan Ki Nartosabdo, Ki Anom Suroto, sampai Ki Manteb Sudarsono. Semua dilakukannya secara otodidak demi mewujudkan mimpinya jadi dalang.
Lebih lengkapnya Baca Sumber
“Iya betul, mas. Tadi jam 19.15,” kata Wakil Ketua DPC PKB Tegal, Fathuri Nurzen, saat dihubungi Tirto.
Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Enthus berencana akan menghadiri acara pengajian di Desa Argatawang, Kecamatan Jatinegara. Sebelum berangkat, ia sempat bertemu dengan sejumlah tokoh masyarakat di Desa Kajenengan, Kecamatan Bojong. Di tengah perjalanan, Enthus merasakan nyeri di dada, mual, hingga berujung tidak sadarkan diri.
Enthus pun segera dilarikan ke puskesmas terdekat. Di sana, tim medis segera melakukan pertolongan pertama pada Enthus. Tapi, hasilnya nihil: ia masih juga tidak sadarkan diri.
Tak lama kemudian, Enthus dibawa ke RSUD Soeselo. Namun, upaya penanganan dari pihak rumah sakit tidak membuahkan hasil. Enthus dinyatakan meninggal dunia akibat serangan jantung.
Bahagia dengan Wayang
Enthus lahir di Desa Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal pada 21 Juni 1966. Ia anak tunggal dari pasangan Soemarjadihardja dan Tarminah. Sejak kecil, hidup Enthus tak bisa dilepaskan dari wayang mengingat ia tumbuh di keluarga seniman. Ayahnya dalang wayang golek, sementara kakek buyutnya, R.M. Singadimedja, adalah dalang yang kondang di era kekuasaan Amangkurat Mataram.
Kendati tumbuh di keluarga seniman, Enthus tak serta merta diperbolehkan mengikuti jejak ayahnya menjadi dalang. Sang ayah pernah berpesan “Dadi dalang kuwi abot sanggane” (jadi dalang itu berat).
Pernyataan sang ayah didasari alasan bahwa pekerjaan mendalang tak otomatis membuat ekonomi keluarganya membaik. Berkaca dari hal tersebut, sang ayah lantas meminta Enthus fokus sekolah; syukur-syukur bisa sampai kuliah dan membawa titel sarjana.
Dasarnya Enthus ngeyel, ia tetap tertarik untuk terjun ke dunia pewayangan. Seringkali ia mencuri kesempatan berlatih wayang di kala ayahnya tidur pulas. Enthus juga rajin ikut ayahnya mentas dari satu panggung ke panggung lainnya. Mengamati lakon yang dibawakan ayahnya sampai menyimak teknik-teknik pedalangan dengan seksama.
Tak hanya itu saja, Enthus tak malu belajar dari para dalang senior macam Sugino Siswotjarito, Ki Gunawan Suwati, serta Ki Bonggol, di samping rutin mendengarkan rekaman kaset permainan Ki Nartosabdo, Ki Anom Suroto, sampai Ki Manteb Sudarsono. Semua dilakukannya secara otodidak demi mewujudkan mimpinya jadi dalang.
Lebih lengkapnya Baca Sumber


Tidak ada komentar: